Ontran Ontran Seputar Keraton Solo


Apa yang sebenarnya terjadi di Keraton Solo? Mengapa ada raja kembar, inilah pertanyaan banyak orang yang tertarik dengan budaya adat terutama Keraton Solo. Setelah menggali informasi dari beberapa pihak yang dekat dan pernah dekat dengan keraton diperoleh informasi sebagai berikut; Raja Surakarta pada waktu itu tidak mempunyai istri atau permaisuri yang sah. Yang dipunyai adalah selir yang berjumlah enam. Dari selir selir tersebut terlahir putra putra seperti Hanggabehi dari selir tertua dan Tedjowulan dari selir berikutnya. Karena sang Raja pada waktu itu tidak memberikan wasiat kepada siapapun putranya yang kelak menggantikan kedudukan Raja di Keraton. Karena sama sama anak laki laki tertua antara Hanggabehi dan Tedjowulan mengklaim sebagai pengganti Raja setelah wafat. Hanggabehi ketika Raja sakit beliaulah yang selalu menemaninya sedang Tedjowulan dengan kesibukannya jarang menunggui ketika sakit. Dari hal tersebutlah saat itu terjadi ontran ontran adanya klaim sebagai raja penerus. Secara adat kraton Hanggabehi mendapatkan dukungan dari abdi dalem kraton sedangkan Tedjowulan tidak mendapat dukungan warga keraton. Perselisihan dan adanya raja kembar ini berlangsung hingga delapan tahun. Berakhirnya perselisihan ini berkat Jokowi selaku walikota Solo mempertemukan keduanya agar keraton dibicarakan baik baik demi keberlangsungan aset budaya. Setelah terjadi rekonsiliasi antara Hanggabehi dan Tedjowulan ternyata pegawai pegawai keraton yang saat ini menjadi abdi dalem menolak dan tidak mengakui telah terjadi kerukunan kembali. Para pegawai keraton saat ini mencurigai niat baik Tedjowulan karena keraton akan mendapatkan dana hibah yang cukup besar. Mereka khawatir dengan kembalinya Tedowulan akan menggeser mereka dengan orang orang dekat Tedjowulan saat ini. Dalam mitologi Jawa, keraton adalah sumber kautamaan atau nilai nilai kautamaan dalam kehidupan. Keraton adalah pusat budaya dan nilai nilai adiluhung. Karena itu sulit dipercaya ketika di antara kerabat keraton justru berselisih.

Satu Tanggapan

  1. Tidak benar,jika dikatakan pihak Tedjowulan akan mengambil alih kekuasaan atau dana hibah,justru akan mengawal dana tersebut agar dimanfaatkan sebaik-baiknya dan transparan. Dana hibah tidak langsung dihibahkan begitu saja. Dan yg cair disesuaikan dengan implementasi dilapangan, yang mengawasi adalah DPRD Surakarta.mengingat penggunaan dana selama ini tidak jelas,hal ini dibuktikan dengan fisik keraton saat ini tidak kopen dan tidak kajen, dengan adanya rekonsiliasi diharapkan keraton Kasunanan dapat KOPEN dan KAJEN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: