Enam Kesulitan Pelajari Bahasa Jawa


Diperkirakan Bahasa Jawa akan punah, hal ini dikarenakan menggunakan Bahasa Jawa di kalangan masyarakat sudah mulai ditinggalkan. Bahasa Jawa walau mendekati kepunahan setelah ditinggalkan penggunaannya oleh orang Jawa sendiri baik dalam kehidupan sehari hari maupun secara edukasi, pelajaran Bahasa Jawa dan tata krama atau budi pekerti telah dihapus dalam system pendidikan kita. Namun kekhawatiran ini tidak perlu ditakuti karena semasih ada orang Jawa hidup bahasa Jawa tidak akan punah. Apalagi dalam pasal 32 UUD 1945 dinyatakan bahwa “Kebudayaan bangsa adalah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan yang lama dan asli yang terdapat sebagai puncak puncak kebudayaan di daerah daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa”.

Penggunaan bahasa jawa ada beberapa jenis dan tingkatan kepada siapa kita berbicara. Berbicara dengan anak, berbicara kepada sesama umur juga berbicara kepada yang lebih tua dari kita dalam bahasa jawa ada aturannya atau unggah ungguhnya. Karena itulah pengunaan bahasa jawa sedikit demi sedikit ditinggalkan terutama kaum muda. Dari hasil kajian dan survey mengapa bahasa jawa menjadi sulit dipelajari, karena ada enam hal. Ke enam hal tersebut adalah :

  1. Bahasa Jawa tidak bisa menghindar dari masuknya bahasa bahasa asing karena globalisasi. Masyarakat lebih suka mempelajari bahasa asing seperti, bahasa Inggris, Arab, China, Jepang.
  2. Tata bahasa, penggunaan tata bahasa mengalami terbalik balik jika kita gunakan bila berbeda dengan siapa yang kita ajak bicara.
  3. Penggunaan bahasa jawa menggunakan struktur atau unggah ungguh, karena ini mempengaruhi suku kata yang akan dipakai.
  4. Kedal, yang artinya bahasa jawa itu penuh dengan ungkapan ungkapan yang bermakna. Seperti bahasa yang digunakan oleh dalang dalam pewayangan.
  5. Tidak masuk akal, penggunaan bahasa jawa tidak masuk akal bahkan menjadi lelucon. Contohnya “ Wong Jowo dodol pitik sikile ditaleni” artinya orang jawa jual ayam kakinya di ikat. Kata di ikat kakinya itu bisa diartikan dua yaitu kaki orang jawa tadi bisa juga kaki ayam yang mau dijual tersebut.
  6. Tulisan, dalam bahasa jawa percakapan dengan tulisan bisa berbeda maknanya. Sebagi contoh di Jawa tengah baliho baliho slogan “ Bali Ndeso mbangun Ndeso “ kata yang tertulis seperti itu ternyata keliru menuliskannya yang maunya berarti Desa ditulis Deso. Ada lagi tulisan pesan seperti “ Ojo lali KB Yo” ternyata kata ini dimaknai oleh orang jawa akhiran Yo disini adalah mengajak untuk tidak ber KB atau melupakan KB.

Itulah ke enam hal mengapa bahasa jawa itu sulit dan menjadi tidak biasa dipergunakan dan diajarkan lagi di sekolah terutama di tingkat sekolah dasar. Hal ini bisa disebabkan gurunya sendiri belum mengetahui dan memahami apalagi muridnya. Bila murid keliru gurunya juga tidak tahu dan hal ini sudah terjadi dalam keseharian kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: