TIPS MEMFASILITASI PELATIHAN/KEGIATAN PARTISIPATIF DENGAN MUDAH 1)


  1. Dasar Pemikiran

Memfasilitasi suatu pelatihan partisipatif (POD)  membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dari seorang fasilitator. Akan tetapi untuk memfasilitasi suatu pelatihan yang baik, bukan hanya membutuhkan pengetahuan dan keterampilan saja dari seorang fasilitator, bahkan pengalaman yang panjang sekalipun belum tentu menjamin seseorang akan melakukan fasilitasi pelatihan partisipatif dengan benar. Selain pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam memfasilitasi, dibutuhkan juga kedisiplinnan dan komitmen yang kuat dalam menerapkan prinsip-prinsip serta daur belajar pelatihan dalam suatu proses  pelatihan. Komitmen dalam menerapkan prinsip dan disiplin dalam melaksanakan proses daur belajar sangat menentukan suatu pelatihan itu partisipatif atau konvensional (one way traffic).

Ketika  dalam fikiran seorang fasilitator bahwa dialah yang paling tahu, paling menguasai materi yang akan disampaikannya, dan fasilitator berniat mendominasi transformasi pengetahuan dan pengalaman kepada peserta, maka pelatihan tersebut tidak dikatakan pelatihan partisipatif lagi. Demikian juga ketika fasilitator diawal materi langsung menjelaskan dan langsung menyimpulkan sendiri suatu materi atau pokok bahasan  maka pelatihan tersebut juga batal menjadi suatu pelatihan yang partisipatif.


  1. Anggapan yang keliru

Sejumlah anggapan dan sejumlah praktek pelatihan partisipatif  yang sering ditafsirkan secara keliru, terutama bagi mereka yang belum mengerti dan tanggung dalam memahami pelatihan partisipatif.

Kekeliruan yang sering terjadi adalah pemahaman pada metode pelatihan. Metode diskusi, baik itu diskusi kelompok diskusi pleno dsb. Merupakan anggapan yang keliru, jika dalam suatu pelatihan yang menggunakan metode diskusi langsung dikatakan suatu pelatihan partisipatif. Demikian juga dengan metode permainan, jika sudah ada permainan dalam suatu pelatihan maka orang langsung melakukan penilaian bahwa pelatihan  tersebut memiliki kadar partisipatif yang sangat tinggi, karena dengan metode permainan tersebut peserta saling berinteraksi satu sama lain, dinamis, menyenangkan, dan tidak menggurui. Metode curah pendapat juga sering dinilai memiliki bobot partisipatif yang tinggi, karena dengan metode curah pendapat peserta sepertinya dihargai dan seolah-olah sangat demokratis.

Perlu diingat, metode curah pendapat, permainan, diskusi dan seterusnya  bukan hak patennya pelatihan partisipatif (POD). Semua pendekatan pelatihan memiliki hak yang sama dalam menggunakan metode tersebut. Quantum Learning, Accclerated Learning, Vibrant teaching, bahkan PAKEM dan CTL yang digunakan dalam pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Pertama juga menggunakan metode permainan, diskusi kelompok, curah pendapat, kerja praktek. Dsb.


  1. Dasar Penilaian

Dasar penilaian suatu pelatihan disebut Partisipatif  terletak pada prinsip-prinsip, peran fasilitator, etika fasilitator  dan penerapan  ” Daur Belajar Pelatihan Partisipatif”.  Penilain yang paling utama dari suatu pelatihan dapat dikatakan partisipatif sangat ditentukan dari penerapan daur belajar ini pada saat proses pelatihan ini dilaksanakan.

Penerapan daur belajar pelatihan partisipatif ini yang jarang dilaksanakan oleh sebagian besar fasilitator ketika memfasilitasi pelatihan partisipatif. Banyak hal yang menjadi alasan penyebab  fasilitator sengaja atau tidak sengaja mengabaikan penerapan daur belajar ini. Salah satunya adalah  kesulitan dalam mengimplementasikan daur belajar tersebut dalam praktek fasilitasi. Apalagi jika tujuan  materi yang akan dilatihkan   dinilai fasilitator belum diketahui dan dialami oleh peserta. Pilihan yang paling praktis adalah mengajari peserta dengan metode lebih banyak ceramah.

Sebenarnya ada cara yang lebih bijaksana untuk mensiasati jika materi yang akan disampaikan dinilai belum sama sekali  diketahui oleh  peserta. Asal fasilitator memegang prinsip ”tugas fasilitator adalah memberikan kemudahan bagi peserta dalam belajar, bukan mencari cara yang mudah mengajari peserta”, berikan kesempatan kepada peserta terlebih dahulu untuk mempelajari sesuatu yang hendak dipelajari , agar peserta memiliki pengetahuan terlebih dahulu tentang materi yang akan dipelajari.

Tugas fasilitator memberikan kemudahan untuk bisa belajar mandiri, penjelasan fasilitator diberikan jika peserta membutuhkan. Motto fasilitator adalah

terlarang bagi fasilitator membantu peserta untuk sesuatu yang dapat dikerjakan oleh peserta sendiri


4. Tips Fasilitasi

Berikut ini akan dijelaskan langkah-langkah  untuk memfasilitasi suatu Pokok Bahasan atau Sub Pokok Bahasan dengan mudah. Tips fasilitasi ini membimbing fasilitator tidak keluar dari daur belajar pelatihan partisipatif (POD).

Langkah 1

Langkah pertama yang harus diperhatikan fasilitator pada saat memfasilitasi suatu pokok bahasan (materi) adalah memahami tujuan masing-masing materi. Jangan  sampai terjadi  tujuan materi tidak difahami dengan baik. Tujuan materi harus dipastikan merupakan suatu indikator yang dapat diukur. Semakin dapat diukur suatu tujuan semakin mudah tujuan tersebut dapat difasilitasi.

Langkah 2.

Cari media untuk disimulasikan kepada peserta. Media ini berfungsi untuk menggali pengalaman dan pengetahuan peserta untuk mencapai tujuan materi yang hendak dicapai. Idealnya untuk mencapai satu tujuan menggunakan satu media, tetapi dapat terjadi satu media dapat menggali beberapa tujuan.  Sebagai contoh untuk mencapai tujuan ”pengertian kerjasama” dalam materi Membangun Tim kerja dapat menggunakan audio visual orang sedang bermain sepak bola

Asumsi penggunaan media ini merupakan upaya untuk merealisasikan  daur belajar pertama yaitu;  ”Mulai dari pengalaman peserta”

Langkah 3.

Simulasikan media tersebut bersama peserta, sebagai contoh  putarkan audio visual sepak bola  untuk diamati oleh peserta.  Fungsi dari memutarkan media ini untuk memfokuskan pemikiran peserta pada tujuan kerjasama yang akan kita fasilitasi

Langkah 4

Setelah mensimulasikan media tadi, gali kesan, perasaan, dan makna yang bisa diambil dari permainan sepakbola tadi (media). Jika kesan, perasaan, dan makna yang diungkap peserta belum sesuai atau masih jauh dari pencapaian tujuan yang hendak dicapai, maka fasilitator memiliki hak untuk menyampaikan kesan, perasaan, dan makna simulasi. Tentunya makna yang disampaikan peserta sesuatu yang akan mencapai tujuan materi sesi yang sedang difasilitasi.

Langkah 5

Setelah mensimulasikan media, kaitkan makna simulasi media tersebut dengan kondisi yang dialami peserta. Seperti contoh fasilitator menanyakan kepada peserta ”Apakah makna dari kerjasama dalam permainan bola tadi juga dialami oleh peserta dalam masyarakatnya?. Jika peserta mengatakan tidak, maka fasilitator bersama –sama peserta melakukan analisa kenapa hal tersebut bisa terjadi.

Lakukan curah pendapat dengan peserta sampai ditemukan solusi yang diungkapkan peserta sendiri. Jika solusi yang diungkapkan peserta masih dianggap kurang oleh fasilitator, maka fasilitator juga memiliki hak untuk menyampaikan solusinya sesuai dengan pencapaian tujuan dari materi pelatihan

Langkah 5 ini adalah aplikasi dari penerapan daur belajar yang ke 3 yaitu tarik kesimpulan bersama peserta.

Langkah 6

Setelah disepakati kesimpulan dari pencapaiaan satu tujuan materi dapat dilakukan atau disepakati upaya-upaya untuk menerapkannya bersama peserta

Selamat berpraktek


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: