SUTERA LIAR INDONESIA


Industri tenun maupun batik di Indonesia saat ini masih bergantung bahan baku impor dari China. Sebagaimana disampaikan pelaku usaha ini Ali Mansur selaku ketua asosiasi tenun Troso berujar dari sejumlah 4000 ATBM di Troso dengan kurang lebih 250 orang perajin, penggunaan bahan bakunya 100% impor dari India, China, Pakistan. Untuk mengatasi kelangkaan dan keterbatasan bahan baku impor di Indonesia masih banyak bahan substitusi yaitu kepompong sutera liar. Sampai saat ini belum banyak public yang mengetahuinya bahkan kalangan industri tekstil sekalipun. Kepompong sutera yang paling umum dikenal adalah kepompong dari hasil budidaya ulat sutera dengan pakan daun murbey. Sutera murbey yang paling umum berwarna putih, meski ada beberapa yang berwarna kuning dan hiaju pucat. Panjang seratnya antara 1000-2000 meter tergantung ukuran dan ketebalan kokon. Kokon murbey menghasilkan benang berikut kain sutera yang halus dan mewah dengan warna dasar putih. Inilah yang dikenal orang sebagai sutera alam.

Disamping sutera alam dapat dikembangkan juga sutera liar, karena ulat ini hidup di alam bebas. Sutera liar ini terdapat dua jenis yaitu jenis kokon cricula dan kokon atacus.

Sekilas Sejarah Cricula

Dari sekitar 50-an jenis sutera liar di Indonesia ada dua species yang sudah dikembangkan dalam industri kreatif yaitu cricula trifenestrata helf dan atacus atlas linn. Cricula atau kepompong emas hanya ada di kepulauan Indonesia. Cricula diperkenalkan ke dunia internasional pertama kali pada tahun 1994 oleh Prof. Hiromu Akai dari Jepang. Pencarian kokon cricula didorong rasa keprihatinan masyarakat sutera Jepang atas punahnya jenis sutera alam murbey yang berwarna emas seabad lampau. Sejak ditemukan dan dalam kurun waktu satu tahun kokon cricula menjadi produk bernilai tinggi baik dalam bentuk benang dan turunannya untuk kerajinan. Kokon cricula ditempelkan diatas kain berlapis emas murni 18 karat dijadikan ornamen pada kain kimono, dasi dan tas.

Karakteristik hidup cricula berasal dari ulat cricula. Dimasa lalu dianggap sebagai hama pada tanaman inangnya, buah buahan tropis berupa mete, kenari, alpukat, mangga, rambutan, kayu manis. Dulu ulat ulat ini dibasmi menggunakan pestisida. Asumsi ulat lipat sebagai hama disebabkan sifat ulat yang suka berkoloni. Masa penetasan telur menjadi ulat saatnya bersamaan dan terus menerus bergerombol hingga berubah wujud menjadi kepompong. Pada masa puncak tetas ulat semua daun habis dimakan ulat. Seluruh permukaan pohon tertutup ulat bahkan sampai turun ke pohon pohon lain yang lebih rendah mencari tempat untuk membuat kokon. Kepompong cricula biasa ditemukan saling berlekatan hingga puluhan biji menggantung dipohon inang, pohon dan semak perdu di sekitarnya. Asumsi ulat cricula sebagai hama terpatahkan seiring dengan kesadaran akan budaya sehat dan penolakan negara-negara konsumen mete terhadap pestisida. Terbukti ulat cricula justru memberikan pengaruh yang bagus pada tanaman inangnya. Masa hidup ulat ini juga tidak bersamaan dengan masa berbuah. Masa menetasnya menjelang akhir musim panas.

Kokon Atacus

Sutera liar berikutnya adalah kokon atacus, ulatnya dikenal dengan ulat keket dan ngengatnya disebut dengan kupu gajah. Pohon inangnya adalah sirsak, jambu biji, mahoni, keben dan alpukat. Ukuran kokon atacas sekitar 3 – 6 ukuran kokon murbey dengan lapisan tebal dan keras. Ulat keket ini berwarna hijau muda tidak berbulu, relatif tidak menjijikan sehingga sejak dulu tidak pernah dibasmi, apalagi warna kupunya juga indah. Kendalanya hanya pada waktu pengumpulannya lebih susah dan memakan waktu lama.

Pasar tradisional kokon liar adalah Jepang. Ketertarikan masyarakat Jepang terhadap kokon sejak ditemukan di Indonesia. Kokon ini disebut juga kokon emas karena warnanya keemasan. Sejarah awal produk kokon emas berawal dari produk produk eklusif Jepang berupa kimono dan aksesories pendukungnya. Berkembangnya kokon emas menjadi beraneka ragam tidak terlepas dari campur tangan beberapa orang Jepang baik dari kalangan desainer produk, penikmat, media, maupun agen perjalanan wisata memperkenalkan produk ulat sutera liar (cricula). Itulah sebabnya cricula lebih dikenal di Jepang daripada di Indonesia. Diterimanya produk kokon liar di berbagai negara mengindikasikan bahwa produk kokon bisa diterima oleh lintas bangsa tinggal menyesuaikan dengan selera pasar di tiap tiap negara. Kendala utamanya adalah masalah harga, karena dikerjakan secara handmade. Oleh sebab itu produk dari hasil ulat sutera liar ini pada pasar menengah keatas.

4 Tanggapan

  1. dapat pengetahuan lagi tentang sutera liar…..

  2. Kalau tidak salah, dikemukakan Prof. Hiromu Akai didalam Kongres International Silk Commition di Londrina – Brazil. Saya tidak mengira kalau beliau mengerjakannya di daerah Yogyakarta.

  3. Indonesia sudah bisa menghasilkan bahan baku sutera liar sendiri, dan sudah diolah menjadi bahan jadi berupa pakaian dan bahan kerajinan lainya, info lebh lanjut : http://www.jogjaroyalsilk.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: