Nurtanio Dan Habibie


Nama Nurtanio pernah menjadi nama besar dan kebanggaan Indonesia sebagai Negara industri semasa pemerintahan presiden Soeharto. Dari sejarah berdirinya keinginan presiden untuk membangun industri pesawat terbang dimulai ketika ide mempertahankan wilayah yang luas serta GNP setiap tahun bertambah dan asset yang besar serta laju pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat sekitar 5% setiap tahun. Keinginan menguasai teknologi ini presiden memanggil Prof. Dr. Ing. BJ Habibie pada Desember 1973 untuk pulang ke Indonesia setelah 24 tahun belajar di Jerman. Tugas yang diemban adalah untuk merealisasikan industri pesawat terbang. Dalam rangka mempersiapkan industri tersebut dibutuhkan adanya laboratorium teknologi. Maka disiapkan Pusat Pengembangan Ilmu dan Teknologi (Puspitek) dan Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT). Kurang lebih selama sepuluh tahun sudah terbentuklah Nurtanio, Puspitek dan BPPT di tahun 1984. Nurtanio yang saat itu mempekerjakan sekitar 12.000 orang. Dalam mewujudkan impian ini tidak mudah karena dunia internasional tidak mau bekerjasama dengan Habibie mulai pendekatan pada Twin Otter hingga Casa. Maka dipilihlah Spanyol sebagai mitra. Apa yang dikatakan Habibie pada waktu itu adalah teknologi tidak datang begitu saja namun harus direbut dan diperjuangkan. Sudah ada pertanyaan pada waktu itu yaitu bisakah Nurtanio berlangsung terus tanpa pak Habibie? Harapan pak Habibie pada waktu itu adalah Nurtanio harus jalan terus, generasi berikut harus lebih baik dari saya. Nurtanio telah menorehkan sejarah di Indonesia, setidaknya dapat diambil pembelajaran bahwa untuk mengelola perusahaan yang cukup besar harus benar benar ada perencanaan yang matang. Kematangan tersebut bukan hanya kematangan dalam bidang teknis, melainkan juga kematangan dalam dedikasi, cita cita dan kesungguhan serta ketrampilan yang benar dapat diandalkan. Karena dalam dunia bisnis kita dihadapkan pada masyarakat luas dimana penuh persaingan. Maka penguasaan teknis dalam arti pengelolaan, ketrampilan, dedikasi dan cita cita serta semangat yang tinggi perlu diperhatikan. Jangan lupa untuk menjadi pemimpin yang berhasil ia harus mempunyai jiwa besar dan memandang jauh kedepan serta jangan takut kritik, apalagi kalau kritik membangun. Tanpa kritik yang sehat, kita sukar untuk mengukur kemampuan kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: