Adicara Panggih

Panggih, adalah acara manten putri akan bertemu dengan manten putra. Kegiatan akan diawali dengan:

  1. ambalang gantal atau balangan gantal yaitu melempar daun sirih dimaknai gondang kasih dan gondang tutur.
  • Gondang kasih, melempar daun sirih pada target dada mempunyai arti cinta kasih manten putra terhadap manten putri lahir batin. ( Pralambang agenging raos asih penganten kakung dumateng ingkang garwa, nandes wiwit lair tumusing batos)
  • Gondang tutur, melempar daun sirih target pada kaki bahwa manten putri telah siaga mengikuti sang suami. ( Pralambang jejering pawestri sampun siaga hanampi sedaya pamurbanipun ingkang garwa).

2. Manten pria menginjak telur.

3. Manten putri membersihkan/mencuci kaki manten pria.

4. Kedua mempelai berdiri berdampingan.

5. Ibu dari manten putri menyiapkan Sindur. Bapak manten putri mengalungkan sindur kepada mempelai menuju pelaminan.

Itulah tata cara lampahing Sinduran.

 

Dibuka Kursus MC Bahasa Jawa

Kursus pranatacara dan pamedar sabda serta budaya Jawa untuk wilayah Semarang Barat, Kecamatan Tugu, dan Kecamatan Ngaliyan ( Ratualiyan ) untuk angkatan 18 periode 2012-2013 telah dibuka. Bagi peminat budaya dan sastra Jawa dapat mengikuti kursus ini. Materi yang akan diberikan antara lain Kapanatacaran, adat dan budaya Jawa, ngedi busana putri, ngedi busana kakung, paduwungan, kepermadanen, Renggeping wicara, Budi pekerti. Informasi pendaftaran dapat menghubungi :

  1. Bp. Budiman Sulistyadi      08122816845
  2. Bp Dwi Wiyono                      08112706289
  3. Bp. Kusmanto                        085228485454
  4. Bp. Tugino                               081225570238
  5. Bp. Basuki Gunarto              081325668430

Tata Cara Ijab Qobul

Pada jaman kejayaan keraton dahulu yang diambil dari sejarah proyek Javanologi, ternyata dalam melangsungkan acara ijab qobul terdapat susunan tata letak duduk para yang berkepentingan. Untuk pelaksanaan Ijab duduknya calon penganten laki-laki menghadap arah Barat, sedangkan walinya menghadap ke arah Selatan. Pengulu atau petugas dari KUA kalau jaman sekarang menghadap arah Timur. Sedangkan Modin menghadap arah Utara. Dan untuk para sepuh pinisepuh duduk mengapit wali. Sedangkan para tamu duduk dekat dengan tempat pelaksanan ijab. Disamping itu terdapat sajen atau uborampe berupa jajan pasar komplit, jenang merah putih, jenang baro baro, tumpeng, ayam hidup. Semua ditaruh diatas tampah dililit dengan kain slindur sedangkan ayamnya di ikat dibawahnya.

Inilah khasanah budaya di tanah Jawa, dan masih dikembangkan tradisi tersebut namun disesuaikan dengan kondisi jamannya.

Tatacara Paningsetan

Sering kawan kawan yang akan melaksanakan perkawinan bertanya  bagaimana urut urutan acara paningsetan tersebut. Paningsetan merupakan tatacara adat yaitu pasrah tampi paningset, abon abon, pangiring kinarya haningseti rembag miwah putra kekalih anggenipun badhe palakrama. Berikut bakunya adicara Paningsetan :

  1. Pambagyaharja ( Pembukaan MC )
  2. Pasrah ; Pasrah paningset dipun salirani wakil calon besan. Wosing sedya masrahaken paningset (berupa perlengkapan wanita), abon abon ( berupa buah buahan yang bundar, pisang ayu/suruh ayu).
  3. Tampi ; dipun salirani paraga piniji pinangka wakil Rama-Ibu calon penganten putri.
  4. Lung tinampi sanggan ; Rama-Ibu calon penganten kakung masrahaken pisang ayu dumateng Rama-Ibu calon penganten putri.
  5. Liru kalpika/tukar cincin ; Ingkang ngagemaken kalpika :

Ibu calon penganten kakung ngagemaken dhateng calon penganten putri.
Ibu calon penganten putri ngagemaken dhateng calon penganten kakung.

6. Atur pamit kalajengaken waluyan pamit

7. Paripurna.

Demikian urutan baku menurut aturan adat Jawa dengan model Surakarta. Namun seiring berkembangnya jaman pelaksanaan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang akan punya kerja. Karena hal tersebut merupakan keindahan dan nguri nguri budaya. Sehingga tidak seluruhnya dilakukan. Tukar cincin merupakan bagian acara paningsetan bahkan tukar cincin pun sekarang dilakukan setelah pelaksanaan ijab qobul.

Sinjang Tingkepan Mitoni

Sinjang adalah pakaian adat jawa, orang biasa menyebutnya jarit. Jarit ini mempunya makna dilihat dari corak yang ada. Nyamping atau sinjang bisa disebut juga jarit macamnya menurut adat jawa adalah : Wahyu temurun, Sido Mulyo, Sido Asih, Satriya Wibawa, Sido Luhur, Lurik, Sida Mukti. Dari nama nama ini menunjukkan perlambang manusia dalam mengarungi kehidupan baik secara lahir maupun batin.
Dalam adat Jawa bila sang ibu sedang mengandung untuk anak yang pertama akan lahir akan ada acara yang dinamakan Tingkepan Mitoni. Dalam acara tersebut penggunaan sinjang dengan macam coraknya akan menjadikan busana yang akan menjadi pilihannya. Arti dari corak sinjang, jarit untuk masing masing corak adalah :
1. Wahyu Temurun, lambang mempunyai keinginan atau harapan agar sang bayi nantinya mendapatkan kepandaian, kecerdasan dalam menyelesaian masalah dalam keluarga, berguna bagi keluarga maupun pada siapa saja.
2. Sido Mulyo, harapan sang bayi jika lahir nanti dapat kemulyaan selama lamanya.
3. Sido Asih, Harapannya nanti sang bayi menjadi orang yang baik tingkah lakunya dan disenangi oleh banyak orang dalam bermasyarakat.
4. Satriya Wibawa, mempunyai harapan agar sang bayi nanti menjadi orang yang berpangkat dan berwibawa dan dihormati orang banyak.
5. Sida Luhur, harapan sang bayi menjadi orang yang dpat memberi kesejukan dan dapat menghargai para leluhurnya dan kewibawaan pendahulu pendahulunya.
6. Lurik, dikenal juga motif tumbar pecah ( bumbu dapur), Perlambang permintaan kepada YME agar lahirnya sang bayi dapat selamat dan tanpa halangan apapun.
7. Sida Mukti, mempunyai harapan sang bayi nantinya selalu mendapatkan kemulyaan selama lamanya. Murah sandang pangan dan rejekinya.
Demikian adat tata cara mitoni. Namun ada pepatah Negara Mawa Tata, Desa Mawa Cara. Jadi menurut keadaan dan situasi masing masing daerah dan keyakinan masing masing.

Ngrumat Dhuwung

Memelihara keris ternyata ada tata caranya. Keris sebagai warisan peninggalan budaya oleh penggemar atau kolektor akan dirawat agar pamornya tidak hilang. Ternyata menjamas atau mencuci Keris itu tidak harus di bulan Syuro. Sebagaimana ahli keris yang namanya jamas atau memandikan keris adalah membersihkan dari kotoran atau karat yang telah melekat. Jadi penjamasan atau pencucian keris dapat dilakukan kapan saja. Mengenai kapan pembuatan keris dibuat, tidak bisa diketahui secara pasti tahun pembuatannya. Namun dapat diketahui melalui jaman pembuatan. Seperti keris jaman Pajang, jaman Mataram dan masih banyak lagi. Karena keris ini sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Untuk mengetahui jaman kapan dibuat dapat diketahui melalui pamor. Pamor disini adalah corak corak yang menempel pada besi keris. Sehingga maksud penjamasan adalah untuk menjaga keindahan dari besi keris itu sendiri dan memberi penghargaan atau menghormati sang mpu yang telah membuatnya. Merawat keris ini cara yang mudah adalah Mutih. Mutih artinya memandikan keris dengan merendam air kelapa hijau selama 24 jam. Ini biasa dilakukan oleh penggemar keris atau tosan aji. Mengapa menggunakan air kelapa hijau tentu didalamnya terdapat kandungan kimia yang perlu diteliti. Setelah direndam air kelapa baru dogosok dengan jeruk nipis. Setelah itu baru diguyur dengan air yang jernih dan dikeringkan. Setelah kering dapat diberikan wewangian agar harum. Jenis wewangian adalah cendana, melati, mawar, bunga kantil.

Padhuwungan

Keris telah dikenal oleh banyak orang merupakan bagian dari pakaian tradisional adat Jawa. Ilmu yang mempelajari mengenai keris ternyata ada juga. Guru yang mengenalkan kami adalah Bapak Suparman, beliau menyampaikan pesan bahwa jangan sampai kita belajar mengenai keris yang merupakan warisan budaya bangsa sendiri harus belajar ke luar negeri. Karena pengetahuan tentang budaya atau keris ini juga sudah berada di perpustakaan negara lain. Pelajaran mengenai Keris dalam adat Jawa disebut PADHUWUNGAN. Dari kata PA-DHUWUNG-AN hasil budaya yang berwujud DHUWUNG. Ada tiga sebutan dhuwung yaitu; Keris, Curiga, Wangkingan.
Sesuai dengan penyebutanya kata dhuwung dapat juga berarti keris, curiga dan wangkingan. KERIS dari kata KE dan RIS. KE artinya bingkai RIS tanggungjawab atau bijaksana. CURIGA dari kata CURI dan GA. CURI artinya batu padas yang keras dan tajam. GA artinya badan jasmaniah. Sedangkan makna DHUWUNG itu sendiri adalah dari kata DHU berarti ikhlas WUNG berarti melindungi. Sebutan WANGKINGAN ini dari kata wingking (dibelakang). Awit pangertosan wingking boten mesti awon, ananging saget katampi pangertosan bilih papan wingking punika pinangka papan wingit utawi rahasia. Lekuk dari keris disebut LUK. Jumlah luk ini bervariasi mulai dari luk 1 hingga 29. Standar yang baku luk keris ini berjumlah 13. Jatuhnya pasti angka ganjil. Jumlah luk dalam keris ini juga mengandung makna. Misal keris dengan jumlah luk 11 bermakna usaha/bisnis nya maju dan berguna bagi orang banyak. Pangkal keris disebut Ganja. Bukan berarti ganja yang banyak ditanam di Aceh, tetapi ganja ini sebutan seperti ganja cicak, ganja tokek, ganja nguceng mati. Ini masih sekilas info mengenai dunia perkerisan.Masih ada sesi menarik lain mengenai pelajaran keris ini yang akan diberikan pertemuan berikutnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.