Batik Semarang

Sejarah batik di kota Semarang diawali keberadaanya di kampung Batik yaitu di kawasan Bubakan. Menurut tradisi Semarang nama Bubakan berasal dari kata Bubak yang artinya membuka sebidang tanah dan tempat ini oleh Ki Pandan Arang I yang menjabat sebagai juru nata dibawah kekuasaan kerajaan Demak. Karena sebagai tempat tinggal seorang juru nata maka disebut dengan Jurnatan. Beberapa letak kawasan batik Semarangan dari asal muasalnya adalah Kampung Batik, Pedamaran, Sayangan, Petudungan dan Kulitan. Pada abad ke -20 dari laporan suatu penelitian banyak penduduk pribumi Semarang yang matapencahariannya di sektor kerajinan yaitu kerajinan batik, pembuatan pewarna batik, kerajinan kulit, pembuatan pakaian. Dokumen dari kolonial Verslag Belanda pada tahun 1919 jumlah industri batik tercatat 25 yang menyerap tenaga kerja 58 orang pria dan 168 tenaga wanita. Sedang pada tahun 1925 jumlah industri meningkat menjadi 107 industri batik dengan menyerap tenaga pria 268 orang dan 242 orang wanita. Setelah kedatangan tentara Jepang pada tahun 1942 telah melumpuhkan aktivitas ekonomi kota Semarang. Ketika tentara Jepang masuk Semarang secara diam diam Pemerintah Belanda memberikan instruksi kepada penduduk untuk membumi hanguskan tempat tempat yang memiliki potensi ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.